#AKAtrans Blora - Ternyata ada
juga Pantai Pasir Putih di Rembang. Dan destinasi ini lumayan 'ngeh' dengan
tampilan yang lebih menawan guys.
Sebuah Pantai pasir putih yang terletak di
dusun Wates Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, ini kini
tampil lebih keren, loh! Jika kita melakukan perjalanan di jalur pantura
sebelah timur Semarang menuju Surabaya, maka kita bisa mampir ke sana. Sebelum
memasuki kota Rembang, berada di sisi kiri jalan ke arah Surabaya. Ada papan
petunjuk jalan yang terpampang sebagai tanda letak pantai tersebut. Ketika
memasuki gang ke arah pantai, disambut oleh pohon Cemara Udang yang berjajar di
tepi jalan. Dulunya sih ditanami pohon Memba, sekarang digantikan oleh pohon
Cemara yang khas dan eksotis.
Hmm... Beberapa tahun
lalu, jika kita sudah pernah berkunjung ke pantai ini,dulunya adalah
sebuah pantai yang masih alami (Perawan). Belum dijadikan destinasi obyek
wisata seperti sekarang ini. Pantai yang memiliki pasir putih ini, dulunya
masih di tumbuhi tanaman Pandan Laut yang memiliki daun berduri. Beberapa pohon
Waru yang berjajar di tepi pantai. Tetapi sekarang telah dipercantik dengan
ditanami pohon Cemara. Sepanjang pantai berjajar pohon Cemara yang membaris
rapi. Bahkan di salah satu tempat yang dulunya adalah tanah lapang yang hanya
ditumbuhi rerumputan dan untuk menggembala sapi, sekarang dijadikan Kawasan
Hutan Cemara nan indah.
Ada beberapa spot cantik juga ada di sana. Bisa untuk berswa foto. Sangat
istagramable. Di zaman now seperti saat ini, cocok. Di mana orang cenderung
suka memposting foto untuk megisi media sosial mereka dengan gambar-gambar
cantik sebagai sarana sosialisasi. Seperti tulisan Love Wates yang ditata
cantik dengan latar belakang pantai. Pemandangan alami yang memang sudah
cantik, maka hasil foto akan menjadi keren dan eksotis.
Kemudian ada juga sebuah jembatan yang menyerupai dermaga yang menuju pantai
yang sengaja dibuat untuk menuju ke arah pantai lebih dalam. Membawa kita seolah-olah
berada di tepi lautan lepas. Angin yang menderu seolah sedang menari bersama
ombak, menjadikan kita lebih Mampu memahami akan keindahan alam. Bercanda
dengan alam, Meski hanya lewat deruan angin laut disertai tarian ombak.
Dan Jika kita mau, kita bisa menceburkan diri ke pantai, basah oleh air laut.
Bahkan kalau kita bisa berenang kita bisaa lebih ketengah lagi bersendau gurau
dengan cemara yang berterbangan diatas pantai.
Kita juga bisa Hunting kerang kecil yang
sudah tak berpenghuni, Bermain pasir putih jadikan Istana juga Bisa untuk
mengekspresikan diri, dengan menulis sesuatu di tepi pantai. Tentang suatu
rahasia, kemudian dibiarkan tersapu oleh ombak. Tak akan ada orang yang tahu,
karena sudah terhapus, rahasia itu terbawa ombak mewarnai dan menyelami laut
selamanya.. 😋
Rimbunan Hutan Cemara, yang gemerisik
daunnya tertiup angin. Seolah menyanyikan sebuah lagu, Simbol bahwa alampun
berinteraksi dengan kita.Masih cukup banyak pohon Pandan Laut yang berduri,
dibiarkan menetap di tepi pantai. Menambah cantik nan seksi pantai pasir putih
ini. Beberapa Kayu yang kering teronggok di tepi pantai, memberi kesan alami.
Bisa dijadikan pertanda, bahwa di sana, alam memiliki kehidupan. Pepohonan
berinteraksi dengan lingkungan. Ada yang mati karena telah tua, ada yang baru
bertumbuh. Semuanya bisa dinikmati dan tentunya kita jaga kelestarianya.
Saat mentari sudah menyingsing menuju ke
tempat peristirahatanya, kita akan menikmati dan menyapa Sunset. dengan kemilau
oranye terang, sedikit demi sedikit menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Senja
tiba. Terang beranjak pergi. Gelap akan datang. Siklus alam sedang menjalani
takdirnya.
Hmm.. saat kita merasa lapar dan haus tapi
masih ingin menikmati pantai pasir putih di Wates ini, maka jangan khawatir,
karena di sana sudah berjajar warung yang bisa dikunjungi. Berbagai makanan
siap saji, menunggu pembeli, sembari mereka menikmati indahnya pantai pasir
putih. Kita bisa memilih beraneka menu Khas Pantura di deretan pusat kuliner
tepi panti ini.
#AKAtrans
Blora, menyediakan layanan transportasi yang
Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Air terjun Putri Nglirip merupakan destinasi
salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat pecinta
travelling, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara dari luar
negeri.
Destinasi unik nan eksotis ini Lokasinya berada di Dusun Jojogan, Desa
Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Air terjun Putri
Nglirip Tuban ini kalau dari pusat kota Tuban berjarak kurang lebih 35 km.
Jalan dan akses menuju ke lokasi wisata air terjun Nglirip ini pun tak rumit. Sepanjang
perjalanan menuju lokasi kita akan menemui Belantara hutan jati dan sebagian
pegunungan Karst.
Obyek Wisata Air terjun Putri Nglirip Tuban ini sangat cantik dan mempesona
dengan airnya yang berwarna hijau tosca. Ketinggiannya mencapai sekitar 50
meter yang bersumber dari Hutan Karawak. Rimbunnya pepohonan disekitar air
terjun juga menambah daya pesona tersendiri. Selain itu disekitar lokasi,
terdapat gardu pandang juga beberapa warung kayu yang menjual makanan maupun
minuman. Kelengkapan warung dan gardu pandang ini menambah kelengkapan di
wisata air terjun Putri Nglirip ini untuk memanjakan pengunjung yang sedang
lapar dan dahaga.
Ada beberapa cerita mitos dan mistis di kawasan air terjun Putri Nglirip Tuban
ini. Mitos yang dipercaya secara turun temurun mengenai air terjun Putri
Nglirip Tuban, berawal dari adanya seorang gadis desa yang berparas cantik.
Salah satu adipati Tuban (Era Pra Majapahit) terpikat dan meminangnya. Dari
hasil pernikahan, mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang diberi nama Joko
Lelono. Setelah dewasa Joko Lelono memiliki seorang kekasih yang berasal dari
kaum miskin. Mendengar hal tersebut, orang tuanya menentang. Akibatnya Joko
Lelono pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Konon ceritanya ia meninggal di
tangan prajurit yang diperintahkan oleh ayahnya untuk membunuh Joko Lelono ini.
Lantas, Gadis miskin itu pun pergi ke
sebuah gua yang terdapat di sekitar air terjun Putri Nglirip untuk
bertapa. Ia merasa patah hati dan mengisolasi dirinya sendiri, tak seorang pun
ingin dijumpai. Masyarakat sekitar percaya jika saat ini, sesekali putri
Nglirip muncul untuk mengambil air yang terdapat di air terjun Putri Nglirip
ini. Akibatnya hingga kini, mitos yang berkembang ialah larangan orang pacaran
untuk berkunjung ke Air Terjun Putri Ngelirip. Mitos yang berkembang kalau ada
yang pacaran di sekitar air terjun Putri Nglirip maka Putri Nglirip akan merasa
terganggu, jikalau telah bersuami istri maka tidak apa-apa. Dari cerita mitos
ini jika pasangan yang sedang memadu kasih atau pacaran di sekitar kawasan air
terjun Putri Nglirip maka pasangan tersebut akan putus setelah 40 hari
berkunjung ke tempat itu.
Begitulah sekelumit informasi tentang mitos air terjun Putri Nglirip Tuban yang
sampai saat ini masih menyimpan misteri. Walaupun demikian, air terjun Putri
Nglirip selalu ramai dikunjungi oleh kawula muda untuk menikmati pemandangan
yang ada di sekitar kawasan air terjun Putri Nglirip nan elok ini.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan
Nyaman..
#AKAtrans Blora, BOGOR – Masjid An Nur
Empang atau yang lebih dikenal dengan Masjid Keramat Empang Bogor adalah salah
satu masjid tertua yang ada di kota hujan yang terletak di Jalan Lolongok, RT
02 RW 04, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat.
Syahdan, Masjid ini dibangun
sekitar tahun 1828 Masehi. Dibangun oleh seorang ulama besar pada Zaman-nya,
yaitu Habib Abdullah bin Mukhsin Al Ahtas yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Di
tempat inilah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas juga dimakamkan bersama
anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Habib Zen Bin
Abdullah Al Athas, Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Habib Abu Bakar Bin
Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid
kesayangannya yaitu Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir. Selain itu, ada pula seorang
ulama yang dimakamkan di sini yaitu Habib Abdurrohman Bin Ahmad Assegaf
(pimpinan Ponpes Al-Busro Depok). Dalam Kitab Manaqib Habib
Abdullah bin Mukhsin Al Athas disebutkan bahwa Beliau adalah seorang Waliyullah
yang berjasa dalam peradaban Islam di Indonesia. Nasab beliau tersambung kepada
Baginda Rasulullah SAW.
Al Habib Abdullah bin Mukhsin
Al-Athas lahir di Desa Haurah, Hadhramaut, Yaman, pada hari Selasa 20 Jumadil
Awal 1265 Hijriyah. Sejak kecil beliau mendapatkan
pendidikan rohani dari ayahnya Al-Habib Mukhsin Al-Aththas. Beliau mempelajari
AlQur'an dari Mu’alim Syeikh Umar bin Faraj bin Sabah. Pada usia 17 tahun beliau
sudah hafal Alquran. Di antara guru-guru beliau, salah
satunya adalah Habib Abu Bakar bin Abdullah Athas. Selain itu Habib Sholeh bin
Abdullah Al Athas, penduduk Wadi a’mad, Hadhramaut dan masih banyak lagi
ulama-ulama besar yang menjadi guru beliau.
Pada tahun 1282 Hijriyah, Habib
Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji pertama kalinya. Selama di Tanah
Suci beliau bertemu dengan ulama-ulama Islam terkemuka. Setelah itu beliau
pulang ke Hadhramaut untuk memperdalam ilmunya. Lalu Pada tahun 1283 H, beliau
melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulang dari ibadah haji, dengan izin Allah,
beliau sampai ke Indonesia. Di Indonesia, Beliau bertemu sejumlah Waliyullah
dari keluarga Al Alwi antara lain Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al
Athas.
Awal kedatangan Beliau ke Tanah Jawa, Habib
Abdullah Bin Mukhsin memilih Pekalongan sebagai kota tempat kediamannya. Guru
beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al Athas banyak memberi perhatian kepadanya. Saat
ini, di samping Masjid Empang, masih berdiri rumah peninggalan sang pendiri
masjid, yang kini ditempati oleh keturunannya. Jika ingin mengunjungi rumah
tersebut, memang tak mudah. Karena, dijaga oleh Khalifah Empang yang merupakan
keturunan beliau. Khalifah ini diamanahi untuk
menjaga masjid, makam, dan rumah Habib Abdullah. Sehingga, kunjungan ke rumah
tersebut harus seizin Khalifah Empang tadi. Rumah seluas 200 meter persegi yang
merupakan peninggalan Habib Abdullah, rumah ini menyimpan benda-benda
peninggalan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, yaitu gamis, sorban, tempat
tidur, dan tongkat. Di rumah ini ada kamar khusus untuk zikir, dan 100 kitab
agama dari jumlah semula 850 buku, kabarnya sebagian besar kitab kitab lainnya
itu kini disimpan di "Jamaturkhair atau di Rabitoh", Tanah Abang
Jakarta. Diantara kitab karangan Habib
Abdullah Bin Mukhsin Al Athas adalah Faturrabaniah, Ratibul Ahtas dan Ratibul
Hadad. Dua kitab terakhir diajarkan setiap magrib secara rutin kepada
murid-muridnya ketika ia masih hidup.
Dalam perjalanan hidup Habib
Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, Beliau pernah dipenjara oleh Pemerintah Belanda.
Tentu pengalaman Beliau ini merupakan kehendak Allah SWT. Sebab nasib serupa juga
pernah dialami Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa
tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh
penguasa yang telah memenjarakannya.
Pemerintah Belanda memenjarakan
beliau dengan alasan difitnah. Selama dipenjara, kemuliaannya makin nampak dan
mengundang banyak pengunjung untuk bersilaturrahim. Kedatangan banyak orang ini
pun mengherankan pimpinan penjara dan penjaganya. Bahkan mereka pun ikut
mendapatkan keberkahan dan manfaat dari kebesaran beliau. Selama di penjara, banyak
pengunjung yang meminta didoakan. Para penjaga pun kewalahan menghadapi
pengunjung yang semakin ramai, lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar
segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan ditawarkan, Habib Abdullah
justru menolak dan memilih menungu hingga selesainya masa hukuman. Pada suatu malam, pintu penjara
tiba-tiba terbuka dan beliau kedatangan tamu istimewa yaitu kakek beliau Al
Habib Umar bin Abdurrahman Alatas (Shohibul Ratib). Saat kejadian itu, kakek
beliau berkata, "Jika engkau ingin keluar penjara keluarlah sekarang, tapi
jika engkau bersabar, maka bersabarlah." Dan ternyata beliau memilih
bersabar dalam penjara. Pada malam itu juga, beliau telah datangi Al Faqih
Muqaddam dan Syeikh Abdul Qadir Jaelani.
Di depan Masjid An Nur (Masjid Keramat Empang Bogor)
Pada kesempatan itu Al Faqih
Muqaddam memberikan sebuah kopiah Al Fiyah kepada beliau, dan Syekh Abdul Qadir
Jaelani memberikan surbannya kepada beliau. Ternyata di pagi harinya kopiah
tersebut masih tetap berada di kepala al-Habib Abdullah bin Mukhsin Alattas.
Padahal beliau bertemu dengan Al-Faqih Al-Muqaddam hanya dalam mimpi.
Para pengujung terus berdatangan
ke penjara sehingga berubahlah penjara itu menjadi rumah yang selalu dituju.
Beliau pun mendapatkan berbagai karomah yang luar biasa. Di antara karomah
beliau, seperti diungkapkan Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (Surabaya).
"Ketika aku mengunjungi Al
Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas dalam penjara, aku lihat penampilannya amat
berwibawa. Beliau terlihat diliputi akan pancaran cahaya ilahi. Sewaktu beliau
melihat aku, beliau mengucapkan bait-bait syair Al Habib Abdullah Al Haddad,
dengan awal baitnya ‘wahai yang mengunjungi aku di malam dingin, ketika tak ada
lagi orang yang akan menebarkan berita fitnah,’ kemudian kami saling berpelukan
dan menangis," kata Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi.
Karomah lain adalah sewaktu
dipenjara, setiap kali beliau memandang borgol yang membelenggu kakinya, maka
saat itu pula borgol tersebut terlepas. Diceritakan, saat pimpinan penjara
menyuruh sipir untuk mengikat leher beliau dengan rantai besi, maka dengan izin
Allah rantai itu terlepas dengan sendirinya. Sedihnya, pemimpin penjara dan
keluarganya justru menderita sakit panas, sampai dokter tak mampu lagi untuk
mengobati. Akhirnya pimpinan penjara sadar kalau sakit panas itu disebabkan
karena telah menyakiti Al Habib Abdullah bin Mukhsin. Pimpinan penjara kemudian
mengutus utusan untuk memohon doa demi kesembuhan penyakit panas itu.
Al Habib Abdullah bin Mukhsin pun
berkata: "Ambillah borgol dan rantai ini, ikatkan di kaki dan leher maka
akan sembuhlah dia". Setelah itu dengan izin Allah penyakit pimpinan
penjara dan keluarganya pun sembuh.
Setelah beliau keluar dari
penjara, beliau mencari tempat sunyi yang jauh dari keramaian manusia. Beliau
memilih Bogor (Empang) sebagai tempatnya menyendiri. Di sana beliau membeli
tanah dan membuat rumah sederhana.
Dari sumber lain disebutkan, awal
mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia pada tahun
1800 Masehi. Ketika itu beliau diperintahkan Al Habibul Imam Abdullah bin Abu
Bakar Alayidrus, menuju Kota Mekkah. Dan sesampainya di Kota Mekkah, beliau
melaksanakan salat dan malamnya beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Entah
apa yang kisah mimpinya, esok harinya beliau berangkat menuju Indonesia. Sesampainya di Indonesia, beliau
dipertemukan dengan Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas, Jakarta dan beliau belajar
ilmu agama darinya. lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan beliau
berziarah ke Habib Husen di luar Batang. Dari sana sampailah perjalanan beliau
ke Bogor. Beliau datang ke Empang tanpa membawa apa-apa.
Saat datang ke Empang Bogor, di
sana belum ada penghuninya. Namun dengan ilmu beliau bisa menyala dan menjadi
terang benderang. Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika
beliau tengah makan di pinggiran Empang. Kebetulan kala itu datang seorang
penduduk Bogor berkata kepada beliau "Habib, kalau Anda benar-benar
seorang Habib Keramat, tunjukkanlah kepada saya kekeramatannya".
Kebetulan Habib Abdullah Bin
Mukhsin Al Athas sedang makan seekor ikan yang tinggal separuh lagi. Maka Habib
Abdullah pun berkata: "Yaa sama Anjul ilaman Tabis," (Wahai ikan
kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah), maka atas izin Allah, seketika
itu ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke Empang. Konon ikan tersebut
sampai sekarang dikabarkan masih hidup.
#AKAtrans Blora, menyediakan
layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora,
PALEMBANG - Saat kita berkunjung ke
Palembang, Selain mencicipi pempek, tak lengkap rasanya jika belum mengunjungi
dan menikmati keindahan Jembatan Ampera. Jembatan yang memiliki panjang 1.177
meter ini menjadi salah satu icon yang terletak di tengah-tengah Kota Palembang.
Seperti kita ketahui
bersama, bahwa Jembatan Ampera membentang dan menghubungkan daerah Seberang Ulu
dan Seberang Ilir Kota Palembang yang dipisahkan oleh Sungai Musi yang
melegenda itu. sungai yang terpanjang di Tanah Andalas atau Pulau Sumatera
tersebut.
Menikmati Jembatan
Ampera pada malam hari bisa jadi aktivitas pilihan saat kita berada di Kota
Palembang. Warnanya yang dilengkapi cahaya lampu yang gemerlap akan membuat Jembatan
Ampera semakin menawan dan eksotis.
Agar dapat
menyaksikan keindahan Jembatan Ampera, salah satu titik terbaik yang dapat kita
kunjungi adalah pelataran Benteng Kuto Besak (BKB). BKB letaknya tak jauh dari
Jembatan Ampera. BKB berada di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, 19 Ilir, Bukit
Kecil, Kota Palembang. Dari titik itu, angle seluruh badan Jembatan Ampera akan
terlihat secara utuh baik dari sisi Ulu hingga Ilir.
Selfie di samping Jembatan Ampera
Kita dapat
memanfaatkan tempat tersebut untuk mengabadikan momen dengan latar belakang
Jembatan Ampera. Menikmati keindahan Jembatan Ampera di pelataran Benteng Kuto
Besak (BKB), Palembang, Sumatera Selatan, Di lokasi tersebut kita juga dapat
menikmati berbagai kudapan khas Palembang yang dijajakan oleh para pedagang
kuliner.
Kita juga bisa
menaiki sepeda kayuh berhias lampu warna-warni untuk mengelilingi pelataran BKB
sambil menikmati keindahan Ampera. Namun untuk berfoto Kitaa juga harus sedikir
bersabar agar hasil foto bisa fokus dan tak "bocor". karena lokasi
ini cukup banyak dikunjungi wisatawan. Jadi carilah spot terbaik yang membuat
foto Kita benar-benar terlihat ekslusif dan Menawan.
#AKAtrans Blora,
menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - CEPU, salah satu kecamatan di Kabupaten Blora kini punya destinasi wisata baru. Masyarakat sekitar menyebutnya dengan MC Edupark, sebuah destinasi wisata keluarga yang di dalamnya terdapat begitu banyak atraksi wisata seru.
Meskipun baru diresmikan pada sekitar pertengahan tahun 2019 lalu, destinasi wisata yang berada di Jalan Golf Nglajo, Kecamatan Cepu, Blora ini sudah ramai dikunjungi wisatawan, baik dari dalam maupun dari luar kabupatn Blora.
Atraksi wisata seru yang bisa dinikmati pengunjung antara lain taman bermain air, sarana olahraga, ATBV, hingga kuliner dan beragam spot arena.
Selfie di depan Taman Bunga MC Edupark
Salah seorang pengunjung MC Edupark, Iqbal kepada #AKAtrans Blora, mengatakan, masuk ke lokasi wisata MC Edupark belum dipungut biaya alias gratis. Tak heran jika destinasi wisata baru ini ramai dikunjungi wisatawan.
"Di MC Edupark tiap harinya tak pernah sepi pengunjung. Kulinernya pun lengkap," Tutur Iqbal.
Iqbal juga mengungkapkan, dirinya bersama keluarga sering datang ke MC Edupark di saat week end. Sesuatu yang beda, kata Iqbal, menjadi rekomendasi tersendiri saat menikmati santai bersama keluarga.tetap sesuai Protokol Kesehatan ya Guys..
"Di samping baru, ini menjadi rekomendasi pula untuk edukasi pada anak anak sambil wisata edupark atau renang sambil Olah Raga Rutin," ucap Iqbal.
Bagi penggila media sosial atau yang akrab disebut "Netizen" tak perlu khawatir kehilangan momen, pasalnya lokasi wisata ini juga sudah dilengkapi free wifi.
#AKAtrans Blora, Menyediakan layanan transportasi yang aman dan nyaman..
#AKAtrans Blora - Sejak meninggal dunia pada 22 Mei 2019 lalu, makam Ustadz Arifin Ilham yang berlokasi di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat tidak pernah sepi dari peziarah. Jumlah itu semakin bertambah ketika memasuki momen Hari Raya Idul Fitri. Makam yang terletak di Komplek Pesantren Az Zikra ini, begitu Asri, Indah dan terawat.
Tentunya, tidak hanya dari warga sekitar, peziarah juga datang dari berbagai wilayah di Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Bahkan dari penjuru Nusantara. Dan Salah satu peziarah adalah keluarga Samarul Falah. Ia jauh-jauh datang ke makam Ustadz Arifin Ilham dari Manggarai, Jakarta Pusat bersama istrinya, Nur Hayati beserta keluarga besarnya.
Alasannya karena Almarhum salah satu orang yang mau bekerja keras lewat jalan dakwahnya untuk membangun masjid dan Pesantren.
Rombongan disambut Putra Ustadz Arifin Ilham
"Beliau (Ustadz Arifin Ilham) adalah seorang tokoh pendakwah. Seorang ulama yang berjuang dari nol, dari tidak ada, sampai sekarang beliau menjadi terkenal, dan dapat membangun masjid di mana-mana," ujar Samarul saat berbincang dengan #AKAtrans Blora, yang juga datang untuk berziarah.
Lanjutnya, alasan lainnya menurut Samarul adalah Almarhum dalam berdzikir selalu istiqomah meskipun dalam keadaan tidak sehat dan menjelang menutup usia sekalipun.
"Karena beliau adalah salah satu ulama yang punya ciri khas saat berdzikir. Dan beliau selalu Istiqomah berdzikir meskipun beliau posisi sudah sakit ketika menjelang ajalnya tetep beliau tidak meninggalkan dzikirnya. Itulah salah satu mungkin keistimewaan beliau yang tidak dimiliki semua orang," tuturnya.
Tidak hanya rajin beribadah dan berdzikir, menurutnya, Almarhum adalah sosok yang tidak tergila-gila untuk mengejar sebuah jabatan.
"Beliau salah satu ulama yang tidak tergila-gila dengan jabatan. Artinya banyak pejabat yang datang tapi dia tidak tergila-tergila jabatan sementara banyak orang sekarang ulama yang hanya mendekati jabatan," lanjut Samarul bersemangat.
"Nah itu lah salah satu ciri beliau kenapa saya datang jauh-jauh dari Manggarai kesini memakan waktu lama tapi inilah bagian cinta. Sabda Rasulullah: barang siapa yang menjadi seorang alim bagi yang masih hidup maupun meninggal dunia maka dia seolah-olah akan ziarah kepada ku itu lah alasan kami sekeluarga berziara kemakam Ustad Arifin Ilham," tandasnya.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman & Nyaman..
#AKAtrans Blora - Musim Kemarau yang selalu terjadi setiap tahunnya mengakibatkan puluhan embung dan juga sungai yang tersebar di Kabupaten Blora mengalami kekeringan, juga tak terkecuali terjadi pada sungai terpanjang di pulau jawa, yaitu sungai bengawan solo yang semakin hari semakin menyusut debit airnya.
Sungai yang melintasi kota Jati (Blora) dan juga kota minyak (Cepu) yang juga berbatasan langsung antara Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah, ternyata menyimpan begitu banyak kisah indah. Selain bencana banjir saat musim penghujan tiba, penemuan emas atau juga barang peninggalan masyarakat lampau, saat kemarau tersimpan keindahan yang patut untuk dikunjungi, apalagi dijadikan destinasi wisata. Ya, destinasi wisata yang menyerupai Water Fall Niagara di Amerika sana.
Kracaan Watu Gong (Cepu) begitu masyarakat menyebutnya. Tepatnya berada di Desa Ngloram, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora.
Sedangkan untuk menuju ke tempat tersebut tidaklah sulit, dari Kota Blora lebih kurang menempuh perjalanan selama satu jam yang berjarak sekitar 40 KM.
Melewati rute dari Kota Blora menuju ke timur arah Surabaya, setelah sampai di Terminal Cepu, ambil kanan arah Bandara Arya Panangsang, Cepu. Kracaan sendiri merupakan air terjun kecil yang berada di tengah-tengah sungai bengawan solo, yang menghasilkan suara kracak (gemericik) syahdu, sehingga warga sekitar menyebutnya Kraca'an.
"Dulu, Warga setempat secara spontan menyebutnya dengan nama Kraca'an," tutur Hamam (42) warga sekitar.
Kebanyakan pengunjung yang datang jauh-jauh dari Blora, Bojonegoro, Tuban dan sekitarnya mengatakan, mereka bersama teman-temannya mendengar ada wisata unik yang hanya ada saat kemarau dari media sosial, sehingga mereka memutuskan untuk berangkat melihat fenomena alam tersebut.
KRACA'AN WATU GONG CEPU BLORA
"Di media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram sangat ramai dan mereka sering mengupload foto mereka, jadi sangat tertarik, langsung deh datang kesini," ungkap salah satu pengunjung.
Kebanyakan pengunjung berharap agar sarana prasarana seperti keselamatan para pengunjung dan sampah lebih diperhatikan lagi oleh pihak terkait. Karena untuk tempat sampah di area Kracaan sangat minim, sehingga para pengunjung membuang sampah sembarangan.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Air terjun Putri Nglirip merupakan salah satu tempat wisata yang ramai dikunjungi oleh masyarakat pecinta travelling, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara dari luar negeri. Destinasi unik nan eksotis ini Lokasinya berada di Dusun Jojogan, Desa Mulyoagung, Kecamatan Singgahan, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Air terjun Putri Nglirip Tuban ini kalau dari pusat kota Tuban berjarak kurang lebih 35 km. Jalan dan akses menuju ke lokasi wisata air terjun Nglirip ini pun tak rumit. Sepanjang perjalanan menuju lokasi kita akan menemui Belantara hutan jati dan sebagian pegunungan Karst. Obyek Wisata Air terjun Putri Nglirip Tuban ini sangat cantik dan mempesona dengan airnya yang berwarna hijau tosca. Ketinggiannya mencapai sekitar 50 meter yang bersumber dari Hutan Karawak. Rimbunnya pepohonan disekitar air terjun juga menambah daya pesona tersendiri. Selain itu disekitar lokasi, terdapat gardu pandang juga beberapa warung kayu yang menjual makanan maupun minuman. Kelengkapan warung dan gardu pandang ini menambah kelengkapan di wisata air terjun Putri Nglirip ini untuk memanjakan pengunjung yang sedang lapar dan dahaga. Ada beberapa cerita mitos dan mistis di kawasan air terjun Putri Nglirip Tuban ini. Mitos yang dipercaya secara turun temurun mengenai air terjun Putri Nglirip Tuban, berawal dari adanya seorang gadis desa yang berparas cantik. Salah satu adipati Tuban (Era Pra Majapahit) terpikat dan meminangnya. Dari hasil pernikahan, mereka dikaruniai seorang anak lelaki yang diberi nama Joko Lelono. Setelah dewasa Joko Lelono memiliki seorang kekasih yang berasal dari kaum miskin. Mendengar hal tersebut, orang tuanya menentang. Akibatnya Joko Lelono pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Konon ceritanya ia meninggal di tangan prajurit yang diperintahkan oleh ayahnya untuk membunuh Joko Lelono ini.
AIR TERJUN PUTRI NGLIRIP TUBAN
Lantas, Gadis miskin itu pun pergi ke sebuah gua yang terdapat di sekitar air terjun Putri Nglirip untuk bertapa. Ia merasa patah hati dan mengisolasi dirinya sendiri, tak seorang pun ingin dijumpai. Masyarakat sekitar percaya jika saat ini, sesekali putri Nglirip muncul untuk mengambil air yang terdapat di air terjun Putri Nglirip ini. Akibatnya hingga kini, mitos yang berkembang ialah larangan orang pacaran untuk berkunjung ke Air Terjun Putri Ngelirip. Mitos yang berkembang kalau ada yang pacaran di sekitar air terjun Putri Nglirip maka Putri Nglirip akan merasa terganggu, jikalau telah bersuami istri maka tidak apa-apa. Dari cerita mitos ini jika pasangan yang sedang memadu kasih atau pacaran di sekitar kawasan air terjun Putri Nglirip maka pasangan tersebut akan putus setelah 40 hari berkunjung ke tempat itu. Begitulah sekelumit informasi tentang mitos air terjun Putri Nglirip Tuban yang sampai saat ini masih menyimpan misteri. Walaupun demikian, air terjun Putri Nglirip selalu ramai dikunjungi oleh kawula muda untuk menikmati pemandangan yang ada di sekitar kawasan air terjun Putri Nglirip nan elok ini. #AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Sosok Sunan Bonang yang bernama asli Syech Maulana Makhdum Ibrahim Putra dari Raden Ali Rahmatullah atau yang kita kenal sebagai Sunan Ampel bin Syekh Ibrahim Asmaraqandi. Syech Ibrahim Asmaraqandi kakek Sunan Bonang memiliki nama asli Ibrahim Al-Ghazi bin Jamaluddin Husein merupakan ulama terkemuka berdarah Turki-Persia dari daerah Samarkand, di negeri Uzbekistan. Sekitar akhir abad ke-14, Syech Ibrahim Asmaraqandi tinggal di Yunan, Cina Selatan. Nama Sunan Bonang ternyata juga untuk mengakomodir nama kakeknya, Ibrahim Al-Ghazi.
Untuk garis keturunan perempuan, ibunya bernama Dewi Candrawati atau disebut Nyai Ageng Manila, putri dari Arya Teja, seorang Adipati Tuban era Kerajaan Majapahit masih berdiri. Sunan Bonang lahir pada tahun 1448 M di Tuban, mempunyai 8 saudara, salah satunya Raden Qasim yang kita kenal sebagai Sunan Drajat. Masa muda Sunan Bonang banyak dihabiskan untuk menimba ilmu dari ayahandanya, Sunan Ampel. Selain itu, Sunan Bonang juga menimba ilmu kepada Syech Maulana Ishak, dari kerajaan Samudera Pasai, Aceh. Sunan Bonang dikenal sebagai penyebar Islam yang menguasai ilmu fikih, ushuluddin, tasawuf, seni, sastra, arsitektur dan ilmu kedigdayaan.
Saat kita memasuki kompleks makam Sunan Bonang yang berada di Dukuh Kauman, Kelurahan Kutorejo, Tuban, peziarah akan menemui bukti fisik antara lain ada tiga gapura. Gapura pertama berbentuk regol, kedua dan ketiga berbentuk Paduraksa. Gapura yang memiliki corak Hindu-Buddha ini seperti menandakan peziarah telah memasuki sebuah komplek tempat suci, atau bangunan penting yakni makam salah seorang wali yang sangat disegani.
Lalu Memasuki gapura kedua, pengunjung akan melihat Masjid Astana Bonang, sebagai zawiyah (tempat menyepi) Sunan Bonang. Disebelah utara masjid ini, kita dapat melihat Gapura Paduraksa, gapura ketiga yang ada di kawasan makam ini. Di gapura ke dua dan ketiga, terdapat hiasan piring dengan ornamen motif bunga dan tulisan Arab. Tulisan tersebut salah satunya tertulis nama empat Khalifaturrasyidun antara lain, Khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Ada sekitar 30-an piring dengan ornamen bunga yang menghiasi Gapura Paduraksa. Peziarah juga bisa melihat tembok kelir dengan 15 piring porselin.
Kemudian peziarah akan menemui ratusan makam dengan jalan setapak (semacam lorong) terbuka yang sudah beratap dan petunjuk arah menuju cungkup makam Sunan Bonang. Cungkup makam Sunan Bonang terletak di tanah yang agak rendah. Terlihat sebuah tangga kecil dari batu dan sebuah pintu dari kayu jati menuju ke dalam Makam Sunan Bonang. Para peziarah yang mendatangi Makam Sunan Bonang duduk bersila dan membaca bacaan seperti Surat Yasin dan Tahlil. Namun, peziarah juga bisa membaca wirid berupa surah Al-Fatihah 50 kali, surah Al-Ikhlas 50 kali, shalawat 300 kali. Konon Bacaan ini wirid kesukaan Sunan Bonang semasa hidupnya.
Sekitaran area Makam Sunan Bonang terdapat bale-bale (pendopo paseban, pendopo rante, dan pendopo tajuk) peninggalan Sunan Bonang saat beliau melaksanakan pendidikan dan syiar agama. Bangunan pendopo itu bentuknya limas, umpak-umpak yang berwarna putih dan terbuat dari tulang ikan. Adanya bangunan paseban, adanya ukiran-ukiran yang eksotis khas kesenangan Sunan Bonang yang indah dengan motif sulur-sulur daun dan hiasan tumpal, serta beberapa peninggalan purbakala seperti tempayan, yoni, pipisan dan peti batu yang tersimpan di pendopo rante.
Penyebaran agama Islam oleh Sunan Bonang dilakukan dengan cara unik dan berbeda dengan sunan lainnya. Sunan Bonang merupakan salah satu sunan yang dikenal tidak hanya cerdik dan fleksibel dalam berdakwah, tetapi beliau juga dikenal memiliki karamah yang hebat menurut masyarakat Jawa. Menurut sejarawan Agus Sunyoto, dakwah Sunan Bonang disebuah daerah di Singkal, Nganjuk mengadakan upacara kenduri menandingi upacara agama Tantrayana dilakukan oleh petinggi-petinggi Majapahit dengan sekte yang disebut sebagai Bhairawa Tantra.
Tantrayana adalah sebuah agama yang memuja dewi bumi, dewi pertiwi, dan durga, dewi sungai. Mereka jika beribadah dengan duduk melingkar di setra. Sebuah setra yang terbesar terdapat di Majapahit yang disebut dengan Setralaya, sekarang disebut dengan Troloyo. Ritual dengan lingkaran itu disebut dengan upacara pancamakara atau lazim disebut sebagai Molimo (Mamsha artinya daging, Matsya artinya ikan, Madya artinya minuman keras, Maithuna berarti seksual, Mudra berarti semedi).
Dalam upacara tersebut lelaki perempuan dalam keadaan telanjang, di tengah lingkaran tersebut ada makanan yang terbuat dari daging, ikan dan minuman keras. Setelah selesai, kemudian mereka melakukan persetubuhan bersama. Setelah nafsu mereka terpenuhi, dalam keadaan tanpa nafsu mereka melakukan semedi.
Saat mencapai level tertinggi Mamsha dari daging hewan diganti dengan daging manusia, Matsya dari ikan biasa diganti dengan ikan Suro, dan Madya dari minuman keras diganti dengan darah manusia. Salah satu pendeta Bhairawa Tantra yang terkenal adalah Adityawarman. Di Kediri, Jawa Timur pedalaman adalah penganut terbesar Bhairawa Tantra.
Karena melihat ritual seperti itulah, Sunan Bonang menandingi dengan membuat acara yang sama di daerah Singkal, Nganjuk, Jawa Timur. Di tempat tersebut, beliau mengadakan upacara serupa, membentuk lingkaran dan pesertanya semuanya laki-laki dan berdoa. Acara ritual itu disebut dengan kenduri atau selametan. Acara ini kemudian berkembang dari satu kampung ke kampung lain. Karena telah berhasil memimpin ritual tersebut, maka Sunan Bonang mendapatkan gelar Sunan Wahdat Cakrawati, (pemimpin upacara berbentuk lingkaran).
Syech Maulana Makhdum Ibrahim atau Sunan Bonang ditunjuk sebagai imam pertama Masjid Demak, dan diberi gelar Imam Guru Suci. Keberhasilan dakwahnya dibantu dengan Sunan Kalijaga yang memberi warna lokal pada upacara keagamaan seperti Idul Fitri, perayaan Maulid Nabi, dan peringatan Tahun Baru Islam. Sunan Bonang berhasil menciptakan asimilasi dan akulturasi budaya manusia yang lebih beradab dan tidak meninggalkan ciri asli budaya Jawa.
DEPAN PINTU MASUK MAKAM SUNAN BONANG
Selanjutnya Upacara Sekaten dan Grebeg Maulid adalah warisan budaya yang diciptakan Sunan Bonang. Di dunia pewayangan, beberapa lakon carangan pewayangan telah digubah dengan kaidah Islam, seperti Petruk Dadi Ratu, Layang Kalimasada, Dewa Ruci, Pandu Pragola, Semar Mbarang Jantur, dan Mustakaweni.
Sedangkan di dalam dunia kesusastraan, Sunan Bonang dikenal sebagai penyair yang profilik, sekaligus penulis risalah estetika sufi yang dikenal dengan ilmu tasawuf. Dunia musik pun tak luput dari sentuhan beliau, gamelan Jawa digubah dengan memasukan instrumen baru seperti rebab Arab dan kempul Campa yang kemudian disebut bonang. Bonang merupakan sejenis kuningan yang ditonjolkan bagian tengahnya. Bila benjolan dipukul dengan kayu lunak akan menimbulkan suara yang merdu di telinga pendengar bahkan dapat menggetarkan hati. Musik gamelan gubahannya menyajikan orkestra polifonik yang mediatif dan kontemplatif. Sebagai maestro pembaharu budaya, Sunan Bonang membuat beberapa kidung seperti Tombo Ati yang melegenda di telinga masyarakat Indonesia.
Lalu di dunia arsitektur, Sunan Bonang berperan dalam menyediakan satu dari empat soko guru Masjid Agung Demak pada tahun 1478 masehi. Sunan Bonang merupakan guru dari Raden Patah putra Raja Brawijaya V Majapahit, guru para wali seperti Sunan Kalijogo. Sunan Bonang Wafat pada tahun 1525 Masehi.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Ternyata ada juga Pantai Pasir Putih di Rembang. Dan destinasi ini lumayan 'ngeh' dengan tampilan yang lebih menawan guys.
Sebuah Pantai pasir putih yang terletak di dusun Wates Desa Tasikharjo Kecamatan Kaliori Kabupaten Rembang, ini kini tampil lebih keren, loh! Jika kita melakukan perjalanan di jalur pantura sebelah timur Semarang menuju Surabaya, maka kita bisa mampir ke sana. Sebelum memasuki kota Rembang, berada di sisi kiri jalan ke arah Surabaya. Ada papan petunjuk jalan yang terpampang sebagai tanda letak pantai tersebut. Ketika memasuki gang ke arah pantai, disambut oleh pohon Cemara Udang yang berjajar di tepi jalan. Dulunya sih ditanami pohon Memba, sekarang digantikan oleh pohon Cemara yang khas dan eksotis.
Hmm... Beberapa tahun lalu, jika kita sudah pernah berkunjung ke pantai ini,dulunya adalah sebuah pantai yang masih alami (Perawan). Belum dijadikan destinasi obyek wisata seperti sekarang ini. Pantai yang memiliki pasir putih ini, dulunya masih di tumbuhi tanaman Pandan Laut yang memiliki daun berduri. Beberapa pohon Waru yang berjajar di tepi pantai. Tetapi sekarang telah dipercantik dengan ditanami pohon Cemara. Sepanjang pantai berjajar pohon Cemara yang membaris rapi. Bahkan di salah satu tempat yang dulunya adalah tanah lapang yang hanya ditumbuhi rerumputan dan untuk menggembala sapi, sekarang dijadikan Kawasan Hutan Cemara nan indah. Ada beberapa spot cantik juga ada di sana. Bisa untuk berswa foto. Sangat istagramable. Di zaman now seperti saat ini, cocok. Di mana orang cenderung suka memposting foto untuk megisi media sosial mereka dengan gambar-gambar cantik sebagai sarana sosialisasi. Seperti tulisan Love Wates yang ditata cantik dengan latar belakang pantai. Pemandangan alami yang memang sudah cantik, maka hasil foto akan menjadi keren dan eksotis. Kemudian ada juga sebuah jembatan yang menyerupai dermaga yang menuju pantai yang sengaja dibuat untuk menuju ke arah pantai lebih dalam. Membawa kita seolah-olah berada di tepi lautan lepas. Angin yang menderu seolah sedang menari bersama ombak, menjadikan kita lebih Mampu memahami akan keindahan alam. Bercanda dengan alam, Meski hanya lewat deruan angin laut disertai tarian ombak. Dan Jika kita mau, kita bisa menceburkan diri ke pantai, basah oleh air laut. Bahkan kalau kita bisa berenang kita bisaa lebih ketengah lagi bersendau gurau dengan cemara yang berterbangan diatas pantai.
Kita juga bisa Hunting kerang kecil yang sudah tak berpenghuni, Bermain pasir putih jadikan Istana juga Bisa untuk mengekspresikan diri, dengan menulis sesuatu di tepi pantai. Tentang suatu rahasia, kemudian dibiarkan tersapu oleh ombak. Tak akan ada orang yang tahu, karena sudah terhapus, rahasia itu terbawa ombak mewarnai dan menyelami laut selamanya.. 😋
PANTAI PASIR PUTIH REMBANG
Rimbunan Hutan Cemara, yang gemerisik daunnya tertiup angin. Seolah menyanyikan sebuah lagu, Simbol bahwa alampun berinteraksi dengan kita.Masih cukup banyak pohon Pandan Laut yang berduri, dibiarkan menetap di tepi pantai. Menambah cantik nan seksi pantai pasir putih ini. Beberapa Kayu yang kering teronggok di tepi pantai, memberi kesan alami. Bisa dijadikan pertanda, bahwa di sana, alam memiliki kehidupan. Pepohonan berinteraksi dengan lingkungan. Ada yang mati karena telah tua, ada yang baru bertumbuh. Semuanya bisa dinikmati dan tentunya kita jaga kelestarianya.
Saat mentari sudah menyingsing menuju ke tempat peristirahatanya, kita akan menikmati dan menyapa Sunset. dengan kemilau oranye terang, sedikit demi sedikit menenggelamkan dirinya di ufuk barat. Senja tiba. Terang beranjak pergi. Gelap akan datang. Siklus alam sedang menjalani takdirnya.
Hmm.. saat kita merasa lapar dan haus tapi masih ingin menikmati pantai pasir putih di Wates ini, maka jangan khawatir, karena di sana sudah berjajar warung yang bisa dikunjungi. Berbagai makanan siap saji, menunggu pembeli, sembari mereka menikmati indahnya pantai pasir putih. Kita bisa memilih beraneka menu Khas Pantura di deretan pusat kuliner tepi panti ini.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Jika kita akan menghabiskan liburan di Demak, traveler bisa menyempatkan diri untuk ziarah ke makam Kesultanan Demak Bintoro di area Masjid Agung. Makam sultan seperti Raden Patah dan para abdinya pun ada di sini.
Wisata religi dengan ziarah ke makam menjadi salah satu pilihan yang pas. Seperti ziarah ke makam Kesultanan Demak Bintoro di kompleks Masjid Agung Demak, Demak, Jawa Tengah.
Saat kita berkunjung ke kompleks makam Kesultanan Bintoro Demak atau Kesultanan Demak tersebut, Makam itu bisa ditemukan di bagian belakang Masjid Agung Demak yang sangat sarat dengan nilai sejarah tersebut.
Di kompleks makam ini, kita bisa melihat makam dari raja-raja Demak beserta para abdinya. Seperti sultan Demak yang pertama yaitu Raden Fatah, Sultan Demak II Raden Pati Unus, serta Sultan Demak III Raden Trenggono.
Selain sultan, makam para pangeran dan istri, Putri Champa, hingga Syekh Maulana Maghribi juga ada di sini. Putri Champa sendiri berasal dari Kerajaan Champa di Vietnam dan merupakan ibunda dari Raden Fatah.
Masjid Agung Kesultanan Demak Bintoro
Sementara itu, Batu nisan di komplek makam ini berbeda-beda ukuran dan warnanya. Ada yang berwarna putih, ada pula yang cokelat. Makam Raden Patah misalnya, warnanya cokelat muda dan lebih tinggi dari makam lain.
Saat kita berada di area makam, kita bisa menyaksikan beberapa pengunjung yang duduk di lantai dekat pagar pembatas makam. Lantai berkeramik putih itu memang biasanya ditempat orang-orang yang ziarah. Ada yang tampak duduk dan terdiam, ada pula pengunjung yang membaca Kitab Suci Al Quran.
Sedangkan di pagar pembatas makam terdapat tulisan jadwal ziarah makam Raden Fatah adalah hari Kamis Wage pukul 17.00 WIB hingga Jumat Kliwon pukul 17.00 WIB. Sedangkan untuk Raden Trenggono pada malam Jumat Kliwon pukul 19.30-21.00 WIB. Namun di luar waktu tersebut tetap banyak yang datang untuk ziarah.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Makam salah satu Wali dari jajaran walisongo ini terletak di Desa Kadilangu, Kab Demak, (Bintoro), Jawa Tengah. Kalau dari kota Semarang arahnya ketimur, bila ditempuh dengan kendaraan roda 4 kurang lebih satu hingga satu setengah jam perjalanan.
Makam keramat kadilangu atau makam kanjeng Sunan Kalijaga cukup mudah di temukan karena di sepanjang jalan ada rambu-rambu atau petunjuk jalan yang memang mengarah ke Masjid Kadilangu (Makam Sunan Kalijogo). Bahkan bagi orang awam sekalipun yang tidak hafal jalan, dapat dengan mudah menemukannya, Kita bisa bertanya kepada masyarakat sekitar Demak, mereka pasti sangat tahu dimana alamat makam keramat Sunan Kalijogo atau petilasan Sunan Kalijogo.
Kanjeng Sunan Kalijaga adalah salah satu Wali Songo yang memiliki kesaktian tinggi, beliau juga ikut ambil bagian dalam pembangunan Masjid Agung Demak, yang terkenal dengan soko kayu. Selain dikenal sakti Kanjeng Sunan Kalijaga juga terkenal “Mandi Pangucape” (Ucapannya Manjur/ampuh), apapun yang keluar dari mulut Sunan Kalijaga bisa terwujud. Tak heran jika makam beliau banyak didatangi oleh orang-orang penting untuk ngalap berkah, Banyak yang percaya bahwa datang kemakam kadilangu, dan berdoa disana, maka akan dimudahkan Rejekinya, di naikkan jabatannya, dipermudah jodoh, cepat mendapatkan apa yang diingnkannya dan juga menjadikan hati tenang dan menjauhkan dari segala persoalan hidup. Dan itu semua tentunya dengan Izin Gusti Allah SWT, Sang Penguasa Kehidupan di bumi dan juga langit.
MASJID AGUNG DEMAK (BINTORO)
Makam Sunan Kalijaga sangat ramai di kunjungi oleh para peziarah, mereka datang dari berbagai penjuru tanah air. Tidak hanya masyarakat Jawa Tengah dan sekitarnya saja, bahkan yang dari luar Jawa pun dapat di jumpai disana. Tak hanya masyarakat biasa, bahkan para pejabat tinggi, artis-artis dan para tokoh-tokoh negara tidak sedikit yang berkunjung ke makam Kanjeng Sunan Kalijaga di Kadilangu ini.
#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..
#AKAtrans Blora - Sudah menjadi tradisi, bahwa tujuan utama orang ke Kota Kudus selain menikmati suasana kota yang asri, biasanya sebagai rangkaian ziarah Walisongo atau banyak orang menyebut sebagai Tour De Walisongo. Ya, di Kota Kudus inilah salah satu Walisongo, yaitu Sunan Kudus Raden Ja'far Shodiq di makamkan tepatnya di belakang Masjid Al Aqsha Menara Kudus.
Hampir Setiap hari para peziarah yang datang ke makam ini bisa mencapai ribuan orang. Pengunjung biasanya berasal dari berbagai penjuru, jumlah ini akan terus bertambah jika musim liburan sekolah tiba. Hal ini disebabkan, sekolah-sekolah tertentu menjadikan makam para wali ini sebagai ajang ziarah sekaligus berwisata mengisi liburan.
Jangan kaget, jika musim liburan tiba jumlah kendaraan yang diparkir mencapai ratusan setiap harinya.
Jika naik bus atau rombongan, dari lahan parkir yang luas ini disediakan berbagai alat transoprtasi yang dapat dipilih oleh para peziarah atau wisatawan, ada ojek sepeda motor, dokar, atau kendaraan angkutan khusus dengan tarif yang sama. Perjalanan menuju ke makam Sunan Kudus cukup mengasyikan dengan pemandangan sudut-sudut Kota Kudus tempo dulu yang masih dapat kita rasakan sampai sekarang.
Yang juga menarik adalah Pemandangan kota tua dengan bangunan kuno dan juga gang-gang sempit dengan bangunan yang menjulang tinggi. Setelah menikmati pemandangan kota tua selama kurang lebih 20 menit kita akan tiba di Komplek Masjid Menara Kudus dan juga Makam Sunan Kudus yang masyhur berbaur dengan ratusan peziarah yang datang silih berganti.
Menara Masjid Kudus Saat Bulan Purnama
Setelah puas berziarah dan melihat keindahan masjid Kuno peninggalan para wali ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Muria, yaitu sebuah gunung yang juga menjadi maskot Kabupaten Kudus, yang di atasnya juga bersemayam Raden Said Sunan Muria yang juga merupakan bagian dari Walisongo.
Tidak mengherankan, jika dimusim liburan seperti ini makam Sunan Muria juga tidak pernah sepi dari peziarah, selain mengharap berkah pada Sunan Muria para peziarah juga bisa menikmati keindahan pemandangan Gunung Muria yang asri dengan Air Terjun Monthelnya.
Demikian sedikit info bagi para pembaca yang ingin mengisi waktu liburan, berwisata sambil berziarah menelusuri jejak para Walisongo di Kota Kudus dan juga Gunung Muria. Sesampainya di kota ini Kita jangan lupa menu masakan khas Kota Kudus, seperti soto Kudus, lenthog Kudus, dan juga oleh-oleh jenang Kudus. #AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..