Showing posts with label Wisata Religi. Show all posts
Showing posts with label Wisata Religi. Show all posts

Monday, 5 April 2021

WISATA RELIGI - ZIARAH HABIB EMPANG BOGOR


#AKAtrans Blora,
BOGOR – Masjid An Nur Empang atau yang lebih dikenal dengan Masjid Keramat Empang Bogor adalah salah satu masjid tertua yang ada di kota hujan yang terletak di Jalan Lolongok, RT 02 RW 04, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat.

Syahdan, Masjid ini dibangun sekitar tahun 1828 Masehi. Dibangun oleh seorang ulama besar pada Zaman-nya, yaitu Habib Abdullah bin Mukhsin Al Ahtas yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Di tempat inilah Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas juga dimakamkan bersama anak-anaknya yaitu Al Habib Mukhsin Bin Abdullah Al Athas, Habib Zen Bin Abdullah Al Athas, Habib Husen Bin Abdullah Al Athas, Habib Abu Bakar Bin Abdullah Al Athas, Sarifah Nur Binti Abdullah Al Athas, dan makam murid kesayangannya yaitu Habib Alwi Bin Muhammad Bin Tohir. Selain itu, ada pula seorang ulama yang dimakamkan di sini yaitu Habib Abdurrohman Bin Ahmad Assegaf (pimpinan Ponpes Al-Busro Depok). Dalam Kitab Manaqib Habib Abdullah bin Mukhsin Al Athas disebutkan bahwa Beliau adalah seorang Waliyullah yang berjasa dalam peradaban Islam di Indonesia. Nasab beliau tersambung kepada Baginda Rasulullah SAW.

Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas lahir di Desa Haurah, Hadhramaut, Yaman, pada hari Selasa 20 Jumadil Awal 1265 Hijriyah. Sejak kecil beliau mendapatkan pendidikan rohani dari ayahnya Al-Habib Mukhsin Al-Aththas. Beliau mempelajari AlQur'an dari Mu’alim Syeikh Umar bin Faraj bin Sabah. Pada usia 17 tahun beliau sudah hafal Alquran. Di antara guru-guru beliau, salah satunya adalah Habib Abu Bakar bin Abdullah Athas. Selain itu Habib Sholeh bin Abdullah Al Athas, penduduk Wadi a’mad, Hadhramaut dan masih banyak lagi ulama-ulama besar yang menjadi guru beliau.

Pada tahun 1282 Hijriyah, Habib Abdulllah Bin Mukhsin menunaikan Ibadah haji pertama kalinya. Selama di Tanah Suci beliau bertemu dengan ulama-ulama Islam terkemuka. Setelah itu beliau pulang ke Hadhramaut untuk memperdalam ilmunya. Lalu Pada tahun 1283 H, beliau melakukan ibadah haji yang kedua. Sepulang dari ibadah haji, dengan izin Allah, beliau sampai ke Indonesia. Di Indonesia, Beliau bertemu sejumlah Waliyullah dari keluarga Al Alwi antara lain Al Habib Ahmad Bin Muhammad Bin Hamzah Al Athas.

Awal kedatangan Beliau ke Tanah Jawa, Habib Abdullah Bin Mukhsin memilih Pekalongan sebagai kota tempat kediamannya. Guru beliau Habib Ahmad Bin Muhammad Al Athas banyak memberi perhatian kepadanya. Saat ini, di samping Masjid Empang, masih berdiri rumah peninggalan sang pendiri masjid, yang kini ditempati oleh keturunannya. Jika ingin mengunjungi rumah tersebut, memang tak mudah. Karena, dijaga oleh Khalifah Empang yang merupakan keturunan beliau. Khalifah ini diamanahi untuk menjaga masjid, makam, dan rumah Habib Abdullah. Sehingga, kunjungan ke rumah tersebut harus seizin Khalifah Empang tadi. Rumah seluas 200 meter persegi yang merupakan peninggalan Habib Abdullah, rumah ini menyimpan benda-benda peninggalan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, yaitu gamis, sorban, tempat tidur, dan tongkat. Di rumah ini ada kamar khusus untuk zikir, dan 100 kitab agama dari jumlah semula 850 buku, kabarnya sebagian besar kitab kitab lainnya itu kini disimpan di "Jamaturkhair atau di Rabitoh", Tanah Abang Jakarta. Diantara kitab karangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas adalah Faturrabaniah, Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad. Dua kitab terakhir diajarkan setiap magrib secara rutin kepada murid-muridnya ketika ia masih hidup.

Dalam perjalanan hidup Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, Beliau pernah dipenjara oleh Pemerintah Belanda. Tentu pengalaman Beliau ini merupakan kehendak Allah SWT. Sebab nasib serupa juga pernah dialami Nabi Yusuf AS yang sempat mendekam dalam penjara selama beberapa tahun. Namun, setelah keluar dari penjara ia diberi kedudukan tinggi oleh penguasa yang telah memenjarakannya.

Pemerintah Belanda memenjarakan beliau dengan alasan difitnah. Selama dipenjara, kemuliaannya makin nampak dan mengundang banyak pengunjung untuk bersilaturrahim. Kedatangan banyak orang ini pun mengherankan pimpinan penjara dan penjaganya. Bahkan mereka pun ikut mendapatkan keberkahan dan manfaat dari kebesaran beliau. Selama di penjara, banyak pengunjung yang meminta didoakan. Para penjaga pun kewalahan menghadapi pengunjung yang semakin ramai, lalu mengusulkan kepada kepala penjara agar segera membebaskan beliau. Namun, ketika usulan ditawarkan, Habib Abdullah justru menolak dan memilih menungu hingga selesainya masa hukuman. Pada suatu malam, pintu penjara tiba-tiba terbuka dan beliau kedatangan tamu istimewa yaitu kakek beliau Al Habib Umar bin Abdurrahman Alatas (Shohibul Ratib). Saat kejadian itu, kakek beliau berkata, "Jika engkau ingin keluar penjara keluarlah sekarang, tapi jika engkau bersabar, maka bersabarlah." Dan ternyata beliau memilih bersabar dalam penjara. Pada malam itu juga, beliau telah datangi Al Faqih Muqaddam dan Syeikh Abdul Qadir Jaelani.

Di depan Masjid An Nur (Masjid Keramat Empang Bogor)

Pada kesempatan itu Al Faqih Muqaddam memberikan sebuah kopiah Al Fiyah kepada beliau, dan Syekh Abdul Qadir Jaelani memberikan surbannya kepada beliau. Ternyata di pagi harinya kopiah tersebut masih tetap berada di kepala al-Habib Abdullah bin Mukhsin Alattas. Padahal beliau bertemu dengan Al-Faqih Al-Muqaddam hanya dalam mimpi.

Para pengujung terus berdatangan ke penjara sehingga berubahlah penjara itu menjadi rumah yang selalu dituju. Beliau pun mendapatkan berbagai karomah yang luar biasa. Di antara karomah beliau, seperti diungkapkan Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (Surabaya).

"Ketika aku mengunjungi Al Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Athas dalam penjara, aku lihat penampilannya amat berwibawa. Beliau terlihat diliputi akan pancaran cahaya ilahi. Sewaktu beliau melihat aku, beliau mengucapkan bait-bait syair Al Habib Abdullah Al Haddad, dengan awal baitnya ‘wahai yang mengunjungi aku di malam dingin, ketika tak ada lagi orang yang akan menebarkan berita fitnah,’ kemudian kami saling berpelukan dan menangis," kata Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi.

Karomah lain adalah sewaktu dipenjara, setiap kali beliau memandang borgol yang membelenggu kakinya, maka saat itu pula borgol tersebut terlepas. Diceritakan, saat pimpinan penjara menyuruh sipir untuk mengikat leher beliau dengan rantai besi, maka dengan izin Allah rantai itu terlepas dengan sendirinya. Sedihnya, pemimpin penjara dan keluarganya justru menderita sakit panas, sampai dokter tak mampu lagi untuk mengobati. Akhirnya pimpinan penjara sadar kalau sakit panas itu disebabkan karena telah menyakiti Al Habib Abdullah bin Mukhsin. Pimpinan penjara kemudian mengutus utusan untuk memohon doa demi kesembuhan penyakit panas itu.

Al Habib Abdullah bin Mukhsin pun berkata: "Ambillah borgol dan rantai ini, ikatkan di kaki dan leher maka akan sembuhlah dia". Setelah itu dengan izin Allah penyakit pimpinan penjara dan keluarganya pun sembuh.

Setelah beliau keluar dari penjara, beliau mencari tempat sunyi yang jauh dari keramaian manusia. Beliau memilih Bogor (Empang) sebagai tempatnya menyendiri. Di sana beliau membeli tanah dan membuat rumah sederhana.

Dari sumber lain disebutkan, awal mula kedatangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas ke Indonesia pada tahun 1800 Masehi. Ketika itu beliau diperintahkan Al Habibul Imam Abdullah bin Abu Bakar Alayidrus, menuju Kota Mekkah. Dan sesampainya di Kota Mekkah, beliau melaksanakan salat dan malamnya beliau bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Entah apa yang kisah mimpinya, esok harinya beliau berangkat menuju Indonesia. Sesampainya di Indonesia, beliau dipertemukan dengan Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas, Jakarta dan beliau belajar ilmu agama darinya. lalu Habib Ahmad Bin Hamzah Al Athas memerintahkan beliau berziarah ke Habib Husen di luar Batang. Dari sana sampailah perjalanan beliau ke Bogor. Beliau datang ke Empang tanpa membawa apa-apa.

Saat datang ke Empang Bogor, di sana belum ada penghuninya. Namun dengan ilmu beliau bisa menyala dan menjadi terang benderang. Diceritakan, ada kekeramatan yang lain terjadi pula ketika beliau tengah makan di pinggiran Empang. Kebetulan kala itu datang seorang penduduk Bogor berkata kepada beliau "Habib, kalau Anda benar-benar seorang Habib Keramat, tunjukkanlah kepada saya kekeramatannya".

Kebetulan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas sedang makan seekor ikan yang tinggal separuh lagi. Maka Habib Abdullah pun berkata: "Yaa sama Anjul ilaman Tabis," (Wahai ikan kalau benar-benar cinta kepadaku tunjukanlah), maka atas izin Allah, seketika itu ikan yang tinggal sebelah lagi meloncat ke Empang. Konon ikan tersebut sampai sekarang dikabarkan masih hidup.

#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..

Saturday, 19 December 2020

WISATA RELIGI - ZIARAH MAKAM UST. ARIFIN ILHAM


#AKAtrans Blora - Sejak meninggal dunia pada 22 Mei 2019 lalu, makam Ustadz Arifin Ilham yang berlokasi di Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat tidak pernah sepi dari peziarah. Jumlah itu semakin bertambah ketika memasuki momen Hari Raya Idul Fitri. Makam yang terletak di Komplek Pesantren Az Zikra ini, begitu Asri, Indah dan terawat.

Tentunya, tidak hanya dari warga sekitar, peziarah juga datang dari berbagai wilayah di Jakarta, Tangerang, Depok, dan Bekasi. Bahkan dari penjuru Nusantara. Dan Salah satu peziarah adalah keluarga Samarul Falah. Ia jauh-jauh datang ke makam Ustadz Arifin Ilham dari Manggarai, Jakarta Pusat bersama istrinya, Nur Hayati beserta keluarga besarnya.

Alasannya karena Almarhum salah satu orang yang mau bekerja keras lewat jalan dakwahnya untuk membangun masjid dan Pesantren.

Rombongan disambut Putra
Ustadz Arifin Ilham
"Beliau (Ustadz Arifin Ilham) adalah seorang tokoh pendakwah. Seorang ulama yang berjuang dari nol, dari tidak ada, sampai sekarang beliau menjadi terkenal, dan dapat membangun masjid di mana-mana," ujar Samarul saat berbincang dengan #AKAtrans Blora, yang juga datang untuk berziarah.

Lanjutnya, alasan lainnya menurut Samarul adalah Almarhum dalam berdzikir selalu istiqomah meskipun dalam keadaan tidak sehat dan menjelang menutup usia sekalipun.

"Karena beliau adalah salah satu ulama yang punya ciri khas saat berdzikir. Dan beliau selalu Istiqomah berdzikir meskipun beliau posisi sudah sakit ketika menjelang ajalnya tetep beliau tidak meninggalkan dzikirnya. Itulah salah satu mungkin keistimewaan beliau yang tidak dimiliki semua orang," tuturnya.

Tidak hanya rajin beribadah dan berdzikir, menurutnya, Almarhum adalah sosok yang tidak tergila-gila untuk mengejar sebuah jabatan.

"Beliau salah satu ulama yang tidak tergila-gila dengan jabatan. Artinya banyak pejabat yang datang tapi dia tidak tergila-tergila jabatan sementara banyak orang sekarang ulama yang hanya mendekati jabatan," lanjut Samarul bersemangat.

"Nah itu lah salah satu ciri beliau kenapa saya datang jauh-jauh dari Manggarai kesini memakan waktu lama tapi inilah bagian cinta. Sabda Rasulullah: barang siapa yang menjadi seorang alim bagi yang masih hidup maupun meninggal dunia maka dia seolah-olah akan ziarah kepada ku itu lah alasan kami sekeluarga berziara kemakam Ustad Arifin Ilham," tandasnya.

#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman & Nyaman..

Sunday, 28 July 2019

WISATA RELIGI - ZIARAH RADEN FATAH (RAJA MUSLIM PERTAMA DI JAWA)


#AKAtrans Blora - Jika kita akan menghabiskan liburan di Demak, traveler bisa menyempatkan diri untuk ziarah ke makam Kesultanan Demak Bintoro di area Masjid Agung. Makam sultan seperti Raden Patah dan para abdinya pun ada di sini.

Wisata religi dengan ziarah ke makam menjadi salah satu pilihan yang pas. Seperti ziarah ke makam Kesultanan Demak Bintoro di kompleks Masjid Agung Demak, Demak, Jawa Tengah.

Saat kita berkunjung ke kompleks makam Kesultanan Bintoro Demak atau Kesultanan Demak tersebut, Makam itu bisa ditemukan di bagian belakang Masjid Agung Demak yang sangat sarat dengan nilai sejarah tersebut.

Di kompleks makam ini, kita bisa melihat makam dari raja-raja Demak beserta para abdinya. Seperti sultan Demak yang pertama yaitu Raden Fatah, Sultan Demak II Raden Pati Unus, serta Sultan Demak III Raden Trenggono.

Selain sultan, makam para pangeran dan istri, Putri Champa, hingga Syekh Maulana Maghribi juga ada di sini. Putri Champa sendiri berasal dari Kerajaan Champa di Vietnam dan merupakan ibunda dari Raden Fatah.

Masjid Agung Kesultanan Demak Bintoro
Sementara itu, Batu nisan di komplek makam ini berbeda-beda ukuran dan warnanya. Ada yang berwarna putih, ada pula yang cokelat. Makam Raden Patah misalnya, warnanya cokelat muda dan lebih tinggi dari makam lain.

Saat kita berada di area makam, kita bisa menyaksikan beberapa pengunjung yang duduk di lantai dekat pagar pembatas makam. Lantai berkeramik putih itu memang biasanya ditempat orang-orang yang ziarah. Ada yang tampak duduk dan terdiam, ada pula pengunjung yang membaca Kitab Suci Al Quran.

Sedangkan di pagar pembatas makam terdapat tulisan jadwal ziarah makam Raden Fatah adalah hari Kamis Wage pukul 17.00 WIB hingga Jumat Kliwon pukul 17.00 WIB. Sedangkan untuk Raden Trenggono pada malam Jumat Kliwon pukul 19.30-21.00 WIB. Namun di luar waktu tersebut tetap banyak yang datang untuk ziarah.

#AKAtrans Blora, menyediakan layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..

Saturday, 20 July 2019

WISATA RELIGI - ZIARAH SYECH JANGKUNG (SARIDIN)


#AKAtrans Blora - Hampir sebagian besar warga Pati, Jawa Tengah dan sekitarnya, nama Syekh Jangkung tidak bisa dilepaskan dengan cerita mengenai kesaktian Syekh Jangkung atau juga dikenal sebagai Saridin yang begitu melegenda. Menurut Babad Pati, Saridin adalah anak angkat Ki Ageng Kingiran yang ditemukan di pinggir sungai. Lalu oleh Ki Ageng Kingiran bayi tersebut diambil dan diberi nama Saridin. Selama ini Ki Ageng Kingiran memang mendambakan anak lelaki meski telah memiliki putri yang bernama Sumiyem.

Saat sudah dewasa Sumiyem diperistrikan oleh seorang laki-laki bernama Branjung, sedangkan Saridin dikawinkan dengan gadis bernama Sumirah.Dalam satu versi dikisahkan jika Saridin muda pernah berguru ke Sunan Kalijaga sehingga dia ini memiliki ilmu kesaktian yang cukup lumayan. Seiring perjalanan waktu Ki Ageng Kingiran orangtua angkat Saridin yang sudah tua berpesan, jika dia meninggal, maka pohon durian miliknya akan diwariskan kepada Saridin dan Branjung suami dari Sumiyem. Ki Ageng Kingiran berpesan jika siang durian tersebut merupakan bagiannya Branjung sedang kalau malam bagiannya Saridin. Bila ada yang jatuh siang menjadi rejeki Branjung sedangkan kalau jatuh malam hari maka rejekinya Saridin.

Ternyata durian tadi kalau siang tidak ada yang jatuh. Sedangkan kalau malam banyak yang jatuh. Branjung mulai merasa iri hatinya dan timbul dalam pikirannya ingin menyamar menjadi harimau untuk menakut-nakuti Saridin. Setelah merubah dirinya menjadi harimau maka segera memanjat pohon durian, Saridin tahu kalau ada harimau di pohon durian segera ditombak kena dan mati. Setelah harimau mati, berubah lagi menjadi manusia. Oleh petinggi Pati, Saridin didakwa telah melakukan pembunuhan sehingga harus dijatuhi hukuman. 

Kemudian Saridin dipenjara oleh penguasa Pati. Sebelum dipenjara, Saridin bertanya apakah boleh pulang jika kangen anak dan istrinya.Petugas menjawab “boleh, asal bisa” . Dan terbukti beberapa kali Saridin bisa pulang, keluar dari penjara di malam hari dan kembali lagi esok harinya. Hal ini tentunya membuat penguasa Pati jengkel lalu Saridin dikenai hukuman gantung. Tapi saat digantung para petugas tidak mampu menarik talinya karena terlalu berat.

Saridin menawarkan ikut membantu, dijawab oleh Adipati “boleh, asal bisa”. Dan karena izin itu Saridin lepas dari talinya, lalu ikut menarik tali gantungan. Adipati semakin murka, dan menyuruh membunuh Saridin saat itu juga. Lalu Saridin memutuskan melarikan diri dan berguru pada Sunan Kudus. Di sini Saridin tidak berhenti menunjukkan kesaktiannya, malah semakin menonjol. Saat disuruh bersyahadat oleh Sunan Kudus, para santri lain memandang remeh pada Saridin, apa mungkin dia bisa mengucapkannya dengan benar. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan semua orang. Saridin justru lari, memanjat pohon kelapa yang sangat tinggi, dan tanpa ragu terjun dari atasnya. Sampai di tanah, dia tidak apa-apa. Semua pada heran pada apa yang terjadi.

Sunan Kudus menjelaskan, bahwa Saridin bukan cuma mengucapkan syahadat, tapi seluruh dirinya bersyahadat, menyerahkan seluruh keselamatan dirinya pada kekuasaan tertinggi. Kalau sekedar mengucapkan kalimat syahadat, anak kecil juga bisa. Namun Saridin masih tetap dilecehkan oleh para santri. Saat ada kegiatan mengisi bak air untuk wudhu, Saridin bukannya diberi ember, malah diberi keranjang. Tapi dengan keranjang itu pula Saridin bisa mengisi penuh bak air. Saat Saridin mengatakan bahwa semua air ada ikannya, tidak ada yang percaya. Akhirnya dibuktikan, mulai dari comberan, air kendi sampai air kelapa, ketika semua ditunjukkan di depan Saridin, semua ada ikannya.

Mungkin Karena Saridin terlalu jumawa dan pamer kelebihan sehingga dia akhirnya diusir Sunan Kudus, harus keluar dari tanah Kudus. Singkat cerita, Saridin lalu bertemu dengan Sunan Kalijaga gurunya terdahulu. Kemudian Saridin diperintahkan untuk bertapa di lautan, dengan hanya dibekali dua buah kelapa sebagai pelampung. Tidak boleh makan kalau tidak ada makanan yang datang, dan tidak boleh minum kalau tidak ada air yang turun.

Pasca berhari-hari bertapa di laut dan hanyut terbawa ombak akhirnya dia terdampar di salah satu kerajaan di Pulau Sumatera yang belum masuk dalam kekuasaan Kerajaan Mataram. Raja tersebut menganggap remeh Sultan Agung. Saridin menyela omongan Raja tersebut, dia merasa terpanggil sebagai seorang yang sama-sama dari Tanah Jawa. Dia mengaku sebagai hamba Mataram yang mau menguji kesaktian dengan sang raja.

“Aku bisa menghitung kekuatan pasukan kerajaan ini, yang paduka gelar di alun-alun kerajaan,” kata Saridin. Ribuan pasukan itu telah siap siaga untuk melawan Sultan Agung Mataram.“Ya, coba kalau bisa kamu menghitung ribuan pasukanku dengan tepat, aku akan mengaku kalah sama kamu, Saridin,”.  

Kemudian Saridin melesat dengan cepat ke atas, berlari dari ujung ke ujung tombak yang mengacung ke langit. Semua dihitung dengan cepat seperti kilat. Dia kemudian berada dihadapan raja dengan menebak jumlah pasukan yang berbaris. Raja itu pun tertunduk, bergetar dan ciut nyalinya menghadapi kesaktian Saridin. Seketika itu raja takluk dihadapan Saridin, namun dia tidak menerima sembah bakti. Saridin menyarankan untuk tunduk kepada Sultan Agung saja, sebab Saridin adalah salah satu hamba dari Mataram. Dengan demikian raja tersebut tunduk-takluk kepada Sultan Agung tanpa perlawanan sama sekali. Selain sakti mandraguna, Saridin juga dikenal sebagai ahli berdakwah Agama Islam. Beramal ibadah, membantu kaum du’afa dan para fakir-miskin. Ketenaran Saridin sampai ke wilayah Mataram. Kehebatan Syeh Jangkung akhirnya sampai di telinga Sultan Agung Raja Mataram. Sultan Agung sedang bingung karena warga di Alas Roban mengadu karena saat ini banyak warga yang menderita karena Ki Jati, penguasa alas Roban sangat kejam dan banyak membunuh warga yang akan membuka ladang di daerah itu.

Ki Jati adalah orang yang sangat sakti yang bisa berubah menjadi siluman ular yang sangat ganas. Tidak itu saja. Ki Jati yang menganut aliran sesat, selalu menculik gadis-gadis muda di sekitar alas roban untuk dijadikan tumbal agar dia tetap digdaya dengan ilmu hitamnya. Sultan Agung lalu minta tolong pada Syeh Jangkung untuk menumpasnya. Syeh Jangkung lalu mendatangi Ki Jati. Terjadilah pertarungan hebat antara Syeh Jangkung dengan Ki Jati. Ki Jati kalah dan Syeh Jangkung minta agar Ki Jati berjanji akan meninggalkan alas roban. Namun Ki Jati masih menyimpan dendam pada Syeh Jangkung.  Atas jasa menumpas penguasa Alas Roban, Syeh Jangkung mendapat hadiah dari penguasa Mataram, Sultan Agung, untuk mempersunting kakak perempuannya, Retno Jinoli. Saat Syech Jangkung
berbahagia akan melaksanakan pernikahannya, Ki Jati yang masih dendam raganya masuk kedalam Retni Jinoli. Syeh Jangkung kini harus berhadapan dengan siluman ular Alas Roban yang merasuk ke dalam diri Retno Jinoli. Dengan Syeh Jangkung merukyah calon istrinya. Istri Syeh Jangkung sembuh dan siluman ular yang masuk ke raga Retno Jinali keluar. Syeh Jangkung marah hingga akhirnya dapat membunuh Ki Jati Wanita trah Keraton Mataram itu lalu menjadi istri sah Syeh Jangkung dan diboyong ke Miyono.

Saat usia Syech Jangkung mendekati senja dia memilih hidup sebagai petani dengan membuka perkampungan baru di kawasan Pati, Jawa Tengah. Dalam perjalanan mencari perkampungan sampailah di Desa Lose. Di sini, dia bertemu dengan tujuh orang yang sedang memperbaiki atap sebuah rumah.
Makam Gus Momot (Putra Syech Jangkung)
LALU DARISINILAH SYEKH JANGKUNG INGIN MEMBUKTIKAN KEBAIKAN PERILAKU KETUJUH ORANG TERSEBUT. LANTAS, DIA MENGALIHKAN PERHATIAN MEREKA DENGAN BERTANYA APAKAH ADA WARGA SEKITAR YANG AKAN MENJUAL KERBAU. MAKSUD SYEKH JIKA ADA MAKA DIA INGIN MEMBELI DUA EKOR DENGAN ALASAN UNTUK KEPERLUAN MEMBAJAK SAWAH.

Ke tujuh orang melihat pakaian Syekh Jangkung yang compang-camping tidak mengindahkan pertanyaan tersebut. Malah menghinanya dengan jawabannya yang menyakitkan. Mereka mengatakan di desanya tidak akan ada orang menjual kerbau padanya. Namun, bila mau dia akan diberi kerbau yang sudah mati. Di luar perkiraan ke-tujuh orang itu, Syekh Jangkung menerima tawaran mereka. Lalu berangkatlah mereka bersama menuju tempat kerbau mati. Syekh Jangkung lantas menatap seonggok kerbau yang sudah tidak bergerak itu. Badannya sangat besar dengan tanduk yang sudah melengkung. Melihat kerbau itu, Syekh Jangkung lantas salat dan meminta kepada Allah agar kerbau itu dihidupkan kembali. 

“Sekarang bangunlah,” ujar Syekh Jangkung sambil mengelus-elus tanduk kerbau itu. Aneh bin ajaib, tiba-tiba kerbau itu mengibaskan ekornya menandakan dia hidup kembali. Tahu kejadian ajaib itu serta merta ke tujuh orang yang semula meremehkan diri Syech Jangkung langsung bersujud untuk menyampaikan permintaan maafnya. Sejak itu Syekh Jangkung membuka perkampungan di tempat ke tujuh orang tersebut. Yang lantas dikenal dengan nama Desa Landoh, Kecamatan Kayen, Pati. 

Sebelum meninggal dunia, Syekh Jangkung berpesan agar kelak kerbau itu disembelih dan dibagikan kepada seluruh penduduk. Tapi, ketika dia meninggal dunia, kerbau itu menghilang dan baru muncul pada hari ke 40. Oleh anaknya, kerbau itu disembelih dan dibagikan kepada penduduk Landoh. Sementara itu, kulitnya (lulang) disimpan dengan rapi.

Suatu ketika ada seorang pedagang yang kehilangan sabuk pengikat barang dagangan. Dia mengadu kepada Tirtokusumo, anak Syekh Jangkung yang akhirnya memberikan tulang kerbau peninggalan ayahnya. Namun, di pinggir kampung sapi yang mengenakan tulang kerbau itu mengamuk. Tak seorang pun yang berhasil membunuhnya. Anehnya, sapi itu tiba-tiba menjadi kebal terhadap senjata. Ketika sapi itu kelelahan, Tirokusumo mengambil tulang kerbau itu. Dan, sapi itupun dengan mudah bisa dibunuh dengan tombak. Dari kejadian tersebut, akhirnya masyarakat yakin jika tulang Kebo Landoh adalah jimat sakti untuk kekebalan. Tirtokusumo kemudian membagikan lulang-lulang itu (dalam ukuran kecil) kepada penduduk Desa Landoh, termasuk Sultan Agung.

#AKAtrans Blora, Menyediakan Layanan transportasi yang Aman dan Nyaman..