Tuesday, 18 October 2016

WISATA TRACKING HUTAN


Ketika kita sudah merasa bahwa pantai dan gunung overrated, mungkin sudah saatnya kita harus menjelajahi hutan-hutan menakjubkan yang ada di Indonesia ini. Berikut sedikit artikel sebagai refrensi “before you lost in the junggle” hehe..

HUTAN BUKIT BANGKIRAI

Bukit Bangkirai adalah nama salah satu lokasi wisata di Kabupaten Kutai Kertanegara  di Kalimantan Timur, Indonesia. Dimana lokasi wisata ini menyuguhkan keindahan alam Hutan Tropis dan Canopy Bridge (Jembatan Tajuk). Jembatan Tajk yang ada di Kalimantan Timur ini adalah jembatan tajuk yang pertama kali di bangun di Indonesia pada tahun 1998 dan diperkirakan bisa bertahan hingga 15-20 tahun-an.

Bahwa Kawasan bukit bangkirai merupakan Kawasan Hutan Konservasi yang luasnya sekitar 1500 Ha, dan pada tahun 1998  510 Ha  dari luas kawasan tersebut telah diresmikan sebagai kawasan wisata. Keunikan wisata di Bukit Bangkirai adalah Canopy Bridge atau Jembatan Tajuk. Canopy Bridge memiliki total panjang sekitar 64 meter.  Terdapat 4 jembatan yang saling terhubung. Namun, kondisi saat ini ada satu jembatan panjang yang mengalami kerusakan dan tidak diperkenankan untuk dinaikin, sebelum dilakukan perbaikan demi keamanan. Kawasan wisata bukit bangkirai, memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Terdapat beberapa cottage untuk menginap yang telah dilengkapi listrik dan ada juga yang belum dilengkapi listrik (jika pengunjung benar2 ingin merasakan hidup di alam). Selain cottage, ada juga fasilitas lainnya seperti Lamin tempat pertemuan, Kolam renang, restaurant dan lapangan hijau kecil untuk kegiatan outdoor dalam skala kecil maupun besar.

Agar kita bisa menuju canopy bridge, kita  bisa berjalan melalui Trek yang sudah tersedia. Trek Pertama kita akan melalui jalan setapak kecil di dalam hutan sejauh 150 meter, dan kita sudah bisa menikmati aroma lembab Hutan Hujan Tropis Kalimantan , suara satwa dan pepohonan besar Dipterocarpaceae yang sebagian sudah di beri nama. Sehingga kita bisa dengan mudah mengetahui jenis pohon tersebut. Untuk Lanjut Trek kedua kita akan berjalan di jalan setapak di dalam hutan hujan tropis sejauh 300 meter, Takkan pernah kita merasa bosan berada didalam hutan dengan keunikan serta  keanekaragaman pohon dan satwa yang tersuguh didalamnya. Amazing..

HUTAN ARFAK

Ternyata Hutan hujan tropis di Pegunungan Arfak telah lama menarik para wisatawan asing. Mereka mengunjungi kawasan itu untuk melihat hewan dan tumbuh-tumbuhan yang merupakan spesies endemik New Guinea di wilayah itu. Terletak di selatan kota Manokwari – ibu kota Provinsi Papua Barat, Pegunungan Arfak dapat dicapai dengan sepeda motor atau mobil. Flora dan fauna di daerah-daerah dataran rendah berbeda dengan yang hidup di dataran tinggi. Contohnya, magnificent birds of paradise dan bower birds pada umumnya ditemukan di lereng yang dekat dengan puncak-puncak pegunungan. Bagi turis yang ingin melihat kanguru pohon, burung taun-taun (hornbills) serta kakatua putih (sulphur-crested cockatoo), tujuan yang direkomendasikan adalah kampung-kampung di kawasan pantai seperti Warkapi, Hangow atau Ransiki.

kegiatan pengamatan burung di hutan tropis biasanya  cukup  sulit jika dilakukan di dalam hutan khususnya ketika kita berjalan menerobos pepohonan yang lebat di bawah kanopi hutan. Cahaya matahari tidak dapat dengan mudah menembus kanopi yang dipadati tumbuhan hijau. Untuk mengambil foto-foto burung, kita membutuhkan kamera lensa panjang. Jangan lupa membawa baterai tambahan karena listrik tidak selalu tersedia. juga selalu membawa kantong plastik yang besar di dalam saku tas untuk melindungi peralatan elektronik jika hujan turun. Berjalan di malam hari, dengan dituntun oleh penduduk setempat, dapat pula dilakukan di Warkapi jika turis ingin melihat binatang-binatang malam seperti kuskus dan burung hantu  dll.

HUTAN LORE LINDU

Destinasi wisata Hutan ini dapat dicapai dengan kendaraan roda empat: Palu-Kamarora (50 km) dengan waktu tempuh 2,5 jam, Palu-Wuasa (100 km) lima jam dan Wuasa-Besoa (50 km) empat jam. Palu- Kulawi (80 km) enam jam. Perjalanan di dalam kawasan dapat dilakukan dengan jalan kaki ataupun dengan naik kuda dengan route : Gimpu-Besoa-Bada selama tiga hari dan Saluki (Sidaonta) – Danau Lindu selama satu hari. hutan ini memiliki berbagai tipe ekosistem yaitu hutan pamah tropika, hutan pegunungan bawah, hutan pegunungan sampai hutan dengan komposisi jenis yang berbeda-beda. Banyak Tumbuhan yang dapat dijumpai di hutan pamah tropika dan pegunungan bawah antara lain Eucalyptus deglupta, Pterospermum celebicum, Cananga odorata, Gnetum gnemon, Castanopsis argentea, Agathis philippinensis, Philoclados hypophyllus, tumbuhan obat, dan rotan, dsb.

Letak Hutan sub-alpin di taman nasional ini berada diatas ketinggian 2.000 meter dpl. Keadaan hutannya sering diselimuti kabut, dan sebagian besar pohonnya kerdil-kerdil yang ditumbuhi lumut. Di dalam kawasan taman nasional terdapat berbagai ragam satwa yaitu 117 jenis mamalia, 88 jenis burung, 29 jenis reptilia, dan 19 jenis amfibia. Lebih dari 50 persen satwa yang terdapat di kawasan ini merupakan endemik Sulawesi diantaranya kera tonkean (Macaca tonkeana tonkeana), babi rusa (Babyrousa babyrussa celebensis), tangkasi (Tarsius diannae dan T. pumilus), kuskus (Ailurops ursinus furvus dan Strigocuscus celebensis callenfelsi), maleo (Macrocephalon maleo), katak Sulawesi (Bufo celebensis), musang Sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii musschenbroekii), tikus Sulawesi (Rattus celebensis), kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus), ular emas (Elaphe erythrura), dan ikan endemik yang berada di Danau Lindu (Xenopoecilus sarasinorum).

selain kekayaan dan keunikan sumberdaya alam hayati, taman nasional ini juga memiliki kumpulan batuan megalitik yang bagus dan merupakan salah satu monumen megalitik terbaik di Nusantara.

HUTAN BETUNG KERIHUN

Hutan ini memiliki keanekaragaman ekosisten sangat tinggi dan keadaan vegetasi hutannya masih baik dan relatif utuh. Ada 8 jenis ekosistem hutan di sini, meliputi Hutan Dipterocarpaceae Dataran Rendah (Lowland Dipterocarp Forest), Hutan Aluvial (Aluvial Forest), Hutan Rawa (Swamp Forest), Hutan Sekunder Tua (Old Secondary Forest), Hutan Dipterocarpaceae Bukit (Hill Dipterocarp Forest), Hutan Berkapur (Limestone Forest), Hutan Sub Gunung (Sub-Montane Forest) dan Hutan Gunung (Montane Forest). Juga Di hutan ini juga terdapat berbagai ragam jenis fauna antara lain 48 jenis mamalia, disamping 18 jenis mamalia besar jenis Chiroptera (Kelelawar) dan 17 jenis binatang pengerat juga ditemukan. Terdapat juga 7 jenis primata yakni Orangutan (Pongo pygmaeus), Kelampiau (Hylobates muelleri), Hout (Fresbytis frontata), Kelasi (Presbytis rubicunda), Beruk (Macca nemestrina), Kera (Macca fascicularis), dan Tarsius (Tasrius bancanus). Selain itu terdapat pula jenis avifauna (burung) diantaranya burung Enggang Gading (Buceros vigil) dan Ruai (Argusianus argus) yang tergolong dalam jenis burung dilindungi oleh UU.

Ternyata Keanekaragaman jenis herpetofauna (reptilia dan amfibia) di taman Nasional Betung Kerihun juga tinggi. Dari 1.500 spesimen yang berhasil dikumpulkan, 103 jenis dapat diidentifikasi dan terdiri atas 51 jenis amfibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura air tawar dan 21 jenis ular. Sedangkan dari spesimen ikan yang diambil dari 123 stasiun di 36 sungai besar dan kecil, terdapat 14 jenis diantaranya adalah endemik borneo. Selain itu keanekaragaman jenis serangga tidak kurang dari 170 jenis yang sudah diidentifikasi. Keren..

HUTAN WASUR

Selanjutnya, Taman Nasional Wasur di Merauke. hutan merupakan bagian dari lahan basah terbesar di Papua dan masih alami. Biodiversitasnya membuat taman nasional ini dijuluki sebagai “Serengeti Papua”. Merauke merupakan destinasi yang cukup spesial bagi pelancong. Bukan karena destinasi lain di Indonesia tidak spesial, tetapi Merauke merupakan tujuan impian orang dari Sabang sampai Jayapura. Ada Banyak danau kecil di TN Wasur. Sekitar 70 persen dari luas kawasan taman nasional berupa vegetasi savana, sedang lainnya berupa vegetasi hutan rawa, hutan musim, hutan pantai, hutan bambu, padang rumput dan hutan rawa sagu yang cukup luas. Jenis tumbuhan yang mendominasi hutan di kawasan TN ini antara lain api-api (Avicennia sp.), tancang (Bruguiera sp.), ketapang (Terminalia sp.), dan kayu putih (Melaleuca sp.).

Berbagai Jenis satwa yang umum dijumpai antara lain kanguru pohon (Dendrolagus spadix), kesturi raja (Psittrichus fulgidus), kasuari gelambir (Casuarius casuarius sclateri), dara mahkota/mambruk (Goura cristata), cendrawasih kuning besar (Paradisea apoda novaeguineae), cendrawasih raja (Cicinnurus regius rex), cendrawasih merah (Paradisea rubra), buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae), dan buaya air asin (C. porosus). Lahan basah di taman nasional ini merupakan ekosistem yang paling produktif dalam menyediakan bahan pakan dan perlindungan bagi kehidupan berbagai jenis ikan, udang dan kepiting yang mempunyai nilai ekonomis yang  cukup  besar. Berbagai jenis satwa seperti burung migran, walabi dan kasuari sering datang dan menghuni Danau Rawa Biru. Oleh karena itu, Danau Rawa Biru disebut “Tanah Air” karena ramainya berbagai kehidupan satwa. Lokasi ini sangat cocok untuk mengamati atraksi satwa yang menarik dan sangat indah.

HUTAN HALIIMUN SALAK

Destinasi wisata hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak merupakan kawasan hutan hujan pegunungan yang tersisa dan terluas di Jawa Barat. Kawasan ini merupakan ekosistem hutan alam yang memiliki sumber plasma nutfah dan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Jenis pohon penting yang ada diantaranya adalah rasamala (Altingia exselsa) dan di kawasan ini masih dapat dijumpai primata langka dilindungi yaitu owa dan surili. Hutan ini telah menjadi salah satu lokasi populer untuk trekking, seperti pengalaman seorang wisatawan yang dituangkan dalam blognya, tarakaisme. “Kegiatan hari ini, kami akan treking menyusuri hutan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Sebenarnya kami berharap bisa naik ke Canopy Trail, Jembatan gantung sepanjang 100 m dengan ketinggian 20-25 m. Di atas pasti pemandangannya lebih amazing. Sayang sekali Canopy Trail ditutup Karena alasan keamanan. Canopy Trail yang dibangun tahun 1998 merupakan bantuan pemerintah Jepang untuk keperluan penelitian itu menjadi terlantar dan tak terawat.

Ok, bro and sista.. perjalanan diteruskan, melintasi tanah gembur, pohon pohon tinggi besar, menyeberang sungai, bertemu sumber mata air pegunungan yang segar, diselingi suara-suara burung dan suara air di sungai dibawah sana. Hutan ini begitu subur dan lebat. Anak-anak yang berjalan di depan kemudian beruntung mereka sempat melihat penampakan beberapa owa (atau lutung?) satu diantaranya mengendong bayi owa (atau lutung?) luar biasa..

HUTAN KAYAN MENTARANG

Semua sudah mahfum, bahwa Taman Nasional Kayan Mentarang adalah hutan primer dan sekunder terbesar, yang meliputi wilayah seluas 1.360.500 HA. Taman  ini terletak di Bulungan, Kalimantan Timur, Indonesia, dengan cuaca lembab dan suhu sekitar 16 ° C – 30 ° C. Taman Nasional ini memiliki ketiggian 200 – 2258 meter di atas permukaan laut dan memiliki sekitar 3.100 mm curah hujan per tahun. Karena lokasi geografis, taman nasional ini diberkati dengan berbagai keanekaragaman hayati, mulai dari daerah dataran hutan hujan tropis sampai di daerah pegunungan, yang menjadi kepompong untuk berbagai jenis tumbuhan dan hewan langka, diantaranya..

Macan dahan (Neofelisnebulosa), Lutung dahi putih (Presbytisfrontatafrontata), Beruang madu (Helarctosmalaynuseuryspilus), Banteng (Bos javanicus lowi) dll.


Berbagai macam anggrek, Pulai (Alstoniascholaris), Kayuulin (Eusideroxylonzwageri), Gaharu (Aquilariamalacensis), Agathis (Agathisborneensis), Kantong semar,  Aren (Arengapinnata), Palem hutan, Ramin (Gonystylusbancanus), Jelutung ,(Dyeracostulata) Rengas (Glutawalichii) dll. Dan masih banyak tumbuhan yang belum teridentifikasi, dan dianggap baru di Indonesia. terdapat 100 spesies mamalia (15 jenis diantaranya endemik), 8 jenis primata, lebih dari 310 jenis burung, dan 28 jenis diantaranya adalah endemik Kalimantan dan telah didaftarkan oleh ICBP (Komite Internasional untuk perlindungan burung) karena merupakan spesies yang terancam punah.

Juga Ada sekitar 20.000 – 25.000 orang suku Dayak, yaitu Dayak Kenyah, Punan, Lun Daye, dan Lun Bawang, tinggal di sekitar taman nasional ini. Mereka hidup berdampingan dengan lingkungannya dalam referensi pengetahuan lokal dan kesederhanaan. Keunikan itu terlihat dalam cara mereka melestarikan keanekaragaman alam. Banyak jenis warisan arkeologi seperti tempat pemakaman dan peralatan batu kuno dapat ditemukan di Taman Nasional ini. Diperkirakan bahwa Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan salah satu situs arkeologi utama di pulau Kalimantan ini.

#AKAtrans Blora, solusi jitu bagi anda yang butuh layanan transportasi yang Aman dan Nyaman.